Cahaya Harapan untuk Desa Telukbaru Pulau Sebesi

radarlampung.co.id - Potensi wisata di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, begitu luar biasa. Pulau tersebut menjadi tempat transit para wisatawan yang hendak berwisata alam ke Gunung Anak Krakatau. Namun ternyata di pedalaman pulau dengan waktu tempuh setengah jam berjalan kaki dari dermaga itu, masih ada kehidupan warga yang minim akan infrastruktur.

Genset merupakan alternatif pembangkit listrik satu-satunya di Desa Telukbaru Pulau Sebesi. Sebanyak 40 kepala keluarga (KK) tinggal di sana. Gelap gulita menjadi hal lumrah setiap malam. Siang pun demikian, tiada listrik yang bisa diperuntukkan buat aktivitas. Genset yang tersedia memang diperuntukkan malam hari.


Sedihnya, lantunan azan yang dapat didengar oleh seluruh warga hanya pada Magrib dan Isya dengan pengeras suara portabel masjid. Tiadanya tempat buang air juga menjadi kekurangan infrastruktur desa. Akhirnya, laut menjadi sarananya.

Melihat kondisi tersebut, yang sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah, komunitas-komunitas sosial mengambil peran. Salah satunya Jalinan Inovasi Sosial (Janis), komunitas sosial yang berafiliasi di Bandarlampung. Mereka turun menghabiskan long weekend kemarin untuk membantu meringankan kebutuhan warga desa. Selama tiga hari, mereka memberikan cahaya harapan di sana.

Kondisi tersebut juga menggerakkan pemuda-pemudi dari pulau seberang. Yakni mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik (STT) PLN Jakarta. Begitu juga, Janis bekerjasama dengan komunitas lainnya seperti Rumah Inggris dan Mahasiswa Ekonomi Pecinta Lingkungan (Mahepel) Unila.





 “Ada tiga project yang kami berikan untuk Desa Teluk Baru. Yakni solar panel, hand washing, dan glowing bottle,” ujar Kris Sivam, Project Director Janis kepada Radar Lampung di Gasibu Beringin Unila, Rabu (14/12).

Solar Panel Project merupakan bentuk karya mahasiswa STT PLN dalam wadahnya bernama Forteks. Secara luar biasa, proyek mereka mampu memberikan penerangan ke sebuah musala yang ada di desa itu.






Musala tersebut dibangun secara swadaya masyarakat sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya, karena daerah tersebut belum tersedia listrik, warga desa tidak bisa mendengarkan azan Subuh, Zuhur, dan Asar. Adapun Magrib dan Isya bisa terdengar karena desa dialiri tenaga diesel pada pukul 18.00-24.00 wib.

Atas proyek tersebut, kini warga desa dapat lebih mudah terpanggil untuk menunaikan kewajibannya. Azan mampu dikumandangkan lima waktu sehari berkat adanya panel surya yang dipasang di atap musala. Beberapa lampu juga dipasang di sekitar jalan menuju musala yang tadinya gelap gulita.

Kedua, glowing bottle project, adalah media penerangan sederhana yang dapat menangkap dan memantulkan cahaya dari limbah botol bekas. Sebanyak 150 botol bekas diisi bubuk Phosphor dan cat genteng berwarna putih sehingga dapat memaksimalkan pantulan cahaya yang masuk.

Inovasi ini dicoba diterapkan di Pulau Sebesi karena melihat jalan setapak cukup berbahaya bagi para pejalankaki dan pengendara motor untuk dilalui. Glowing bottle ditancapkan di daerah sekitar desa.





Mereka juga memberikan penyeluhan kepada anak-anak desa dengan pengetahuan sederhana tentang kesehatan. Mereka bersama-sama melakukan penyuluhan kesehatan dengan tema cara mencuci tangan yang baik dan benar. Adik-adik Desa Teluk Baru begitu antusias dan bahagia walaupun awalnya kebanyakan mereka malu-malu untuk ikut bermain.




Kris mengatakan, semua itu merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial di daerah tercintanya, Lampung. Dia berharap, gerakan tersebut bisa memberikan manfaat dan kemudahan dalam menunaikan kewajiban beragama bagi warga dan kemudahan lainnya.

“Sungguh sambutan luar biasa dari warga. Sebab menyambut tamu merupakan hal jarang di desa tersebut. Semoga gerakan ini bisa memotivasi pemuda-pemudi untuk berbuat hal positif. Begitupun pemerintah dapat lebih melek atas kesulitan rakyatnya,” tambah Rizky Kurnia Wijaya, ketua Janis.

(Laporan Hafizh Syarifuddin, BANDARLAMPUNG)